MENCETAK PERAWAT BERGAJI RP 18 JUTA


 

BIHS NEWS

Wednesday, February 16, 2005

MENCETAK PERAWAT BERGAJI RP 18 JUTA

Suka atau tidak suka Indonesia dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja kelas pembantu rumah tangga. Mayoritas penempatan tenaga tenaga ke luar negeri adalah kategori penatalaksana rumah tangga. Tetapi akankah terus begitu?

Ternyata tidak. Apa yang dirintis Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Binawan setidaknya cukup memberikan jawaban konkret yang positif.

STIKes Binawan sudah lama merintis penempatan tenaga kerja professional, tenaga perawat di luar negeri. Sepuluh tahun lalu lembaga itu merintisnya melalui program International Health Training Programme (IHTP), yaitu memoles tenaga lulusan sekolah dan akademi perawat untuk ditempatkan ke luar negeri, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Akhirnyadisimpulkan, perawat bertaraf internasional harus dipersiapkan sejak awal melalui pendidikan bertaraf internasional yang diakui rumah sakit di seluruh dunia.

Untuk itu, STIKes Binawan sejak 2001 menjalin kerjasama dengan University of Technology Sydney (UTS), Australia. Lulusannya berhak menyandang gelar sarjana keperawatan (Bachelor of Nursing) yang setara dengan lulusan UTS. “Untuk mendapatkan kualitas tenaga yang berstandar internasional itu, STIKes menerapkan kurikulum yang disesuaikan dengan standar internasional,” katanya.

Tiga Program

Ada tiga program, yaitu A, B dan B Plus di STIKes yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur itu. Program A adalah mahasiswa yang memasuki STIKes dari jalur tamatan SMA. Mereka diharuskanmenempuh delapan semester pendidikan, dengan semester terakhir dilaksanakan di UTS. Untuk mendaftar, dikenai biaya Rp. 300 ribu, untuk biaya pendaftaran, psikotes, tes bahasa Inggris dan tes IPA terpadu, dan Rp. 300 ribu lagi untuk tes kesehatan.

Begitu dinyatakan lulus, pada semester pertama diwajibkan membayar biaya kuliah sebesar Rp. 12 juta, terdiri atas Rp. 6 juta dibayar tunai dan Rp. 6 juta sisanya dipinjamkan yayasan. Setelah itu mulai semester 2 – 7 setiap mahasiswa tetap dikenai biaya biaya Rp. 12 juta tetapi hanya Rp. 3 juta yang dibayar tunai, sementara Rp. 9 juta sisanya dipinjami yayasan.

Pada semester terakhir mereka diharuskan membayar tunai 12.500 dolar Australia dengan 1000 dolar diantaranya dibayar tunai. Semuapinjaman total berjumlah 22.100 dolar Australia itu dikembalikan dalam bentuk cicilan setelah mahasiswa tersebut bekerja dua tahun di Australia dengan gaji 2000 dolar. Selama 23 bulan, gaji mereka dipotong 925 dolar setiap bulan dan pada bulan ke-24 dipotong 825 dolar Australia .

Sementara, program B diperuntukkan bagi para luusan Akademi Perawat. Biaya pendaftarannya sama Rp. 300 ribu, untuk tes psikologi, bahasa Inggris dan tes keperawatan, serta Rp. 300 ribulagi untuk tes kesehatan (dibayar di rumah sakit tempat tes kesehatan). Setelah diterima, mereka hanya diwajibkan menempuh pendidikan selama tiga semester yang menelan biaya pendidikan setiap semester Rp. 12 juta. Biaya yang harus disediakan langsung pada semester pertama Rp 6 juta, semester kedua Rp. 3 juta dan semester ketiga Rp 3 juta. Sisa kekurangannya dipinjami yayasan.

Pada semester ke-4, guna menyelesaikan program kesarjanaannya, mereka harus menempuh di Australia dengan biaya 12.500 dolar Australia dengan 1000 dolar diantaranya dibayar tunai. Setelah luls mereka diperkerjakan di rumah sakit dengan gaji 2000 dolar Amerika.

Sementara itu untuk kategori program B Plus diperuntukan bagi tamatan akademi Perawat (Akper) yang telah berpengalaman kerja, minimal 2 tahun. Bedanya dengan program B, setelah diterima sebagai mahasiswa, bila ada permintaan, mereka harus siap mengikuti tes bekerja di luar negeri. Kalau lulus tes, mereka cuti kuliah dan berhak mendapat gaji selama bekerja. Standar biaya kuliahnya sama dengan tamatan Akper.

Tidak Mememnuhi Standar

Pekan lalu , Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Fahmi Idris, melepas lulusan sekolah tinggi tersebut untuk melanjutkan studi tahap akhir dan setelah itu dipekerjakan di Rumah Sakit Australia . Gajinya cukup lumayan, yaitu 2000 dolar Amerika atau setara Rp 18 juta per bulan.

Hingga akhir 2005, manajemen STIKes menargetkan dapat menempatkan 2000 perawat di luar negeri, terdiri atas lulusan program A, B dan Program B Plus. Mereka yang sukses mengalamai masa kerja dua tahun diizinkan memperpanjang kontrak kerjanya di Australia atau melakukan kontrak kerja di negara-negara lain yang membutuhkan.

Tingkat permintaan tenaga perawat di seluruh dunia mencapai 200 ribu perawat per tahun. Sementara Indonesia mempunyai banyak tamatan sekolah dan Akper yang menganggur dan tidak dapat memannfaatkan permintaan internasional karena tidak memnuhi syarat dan standar internasional.

Fahmi Idris mengatakan pemerintah akan terus mendorong penempatan TKI formal dari kalangan professional. Indonesia harus mampu mencetak tenaga perawat yang bertaraf internsional agar dapat bersaing dengan tenaga perawat dari negara lain yang lebih dulu meraih kemajuan. “Jika melihat STIKes Binawan, saya merasa yakin, suatu ketika Indonesia dapat memasok tenaga perawat ke negeri seperti Amerika,” katanya.

 

Monday the 20th. STIKes BINAWAN 2012
Copyright 2012

©

BigCommerce Review